Outsourcing, Insourcing, atau Co-sourcing

3 December 2010
Comments Off on Outsourcing, Insourcing, atau Co-sourcing

Sejalan dengan berkembangnya teknologi dan semaikin meluasnya trend globalisasi, banyak organisasi bisnis, permerintahan, pendidikan, atau kemanusiaan yang mulai mengembangkan kegiatan produksi atau operasi nya dengan menggunakan bantuan teknologi. Dengan ini banyak keuntungan-keuntungan yang didapat, tidak dipungkiri ada juga kerugiannya. Untuk mendapatkan teknologi yang pas dan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, sudah banyak sekarang perusahaan IT yang menyediakan produk dan jasa dalam mengembangkan dan mengimplementasikan sebuah sistem informasi atau produk-produk IT mereka kepada organisasi-organisasi tadi yang membutuhkan. Biaya dari produk IT ini tidak murah. Beberapa kasus menunjukan banyak organisasi yang tidak mampu membeli produk dan jasa dari perusahaan IT eksternal. Selain alasan biaya kompleksitas penggabungan atau penyelarasan sistem baru dan lama menyebabkan banyak organisasi beralih ke solusi lainnya yaitu pembentukan departemen yang bertanggung jawab untuk mengurusi dan mengelola sistem informasi di dalam perusahaannya. Adapula yang memilih untuk mengabungkan jasa dari luar dengan departemen IT nya dengan tujuan mendapatkan resources yang banyak.

Banyak organisasi yang terjebak dalam dilema apakah memilih subkontrak proses, seperti desain produk atau manufaktur, ke perusahaan eksternal atau biasa disebut outsourcing dengan alasan menurunkan biaya pengembangan sistem, mengalihkan energi yang tetap diarahkan pada core competency bisnisnya sendiri, meningkatkan efisiensi operasi, atau untuk penghematan tenaga kerja. Atau mereka memilih internal production atau biasa disebut insourcing. Kegiatan insourcing biasa dilakukan oleh satu departemen di perusahaan atau organisasi yang melakukan operasi atau produksi dalam bisnis unit secara internal yang berdiri sendiri dan mengkhususkan diri di proses. Perusahaan juga dapat mendapatkan keuntungan dari outsourcing dan insourcing sekaligus dengan menerapkan co-sourcing yaitu penggabungan sistem kerja eksternal dan internal untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pengembangan IT di organisasi mereka. Keputusan akhir tidak sederhana karena pengkajian melibatkan prosedur panjang membandingkan dan mengkontraskan antara keuntungan dan kerugian, biaya dan manfaat dari ketiganya.

Pertama-tama lebih baik kita kenal lebih dalam apa itu outsourcing, insourcing dan co-sourcing sebelum kita membandingkan keuntungan dan kerugian dari ketiganya. Pemahaman mengenai permasalahan ini perlu kita miliki sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan. Dari pemahaman baru bisa kita putuskan dan lakukan evaluasi dengan stakeholders perusahaan atau client kita apakah yang cocok untuk perusahaan kita. Manajer perlu memperhitungkan beberapa faktor dalam mengelola pengerjaan operasional perusahaan seperti faktor waktu, biaya, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Ada beberapa pendekatan dalam mengelola pengerjaan operasional atau pengerjaan suatu proyek dalam perusahaan, yaitu pendekatan outsourcing, insourcing serta co sourcing. Masing-masing pedekatan tersebut pasti memiliki keunggulan dan kelemahan.


Apa itu outsourcing ?

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal. Outsourcing dimulai pada awal tahun delapan puluhan ketika organisasi mulai mendelegasikan fungsi-fungsi non-inti dari bisnis utama mereka kepada organisasi eksternal yang khusus menyediakan layanan fungsi tertentu atau produk. Dalam outsourcing, organisasi eksternal akan mengambil pengelolaan fungsi IT mereka di perusahaan. Beberapa perusahaan memilih outsourcing dengan alasan utama yaiatu perusahaan dapat lebih berkonsentrasi pada fungsi utama mereka di bisnis dan menghemat waktu, sumber daya dan infrastruktur.

Strategi outsourcing yang mengatur urusan yang muncul ketika perusahaan mengandalkan antara pasar untuk menyediakan kemampuan khusus yang melengkapi kemampuan yang ada perusahaan yang disebarkan sepanjang rantai nilai. Seperti pengaturan perusahaan dalam menghasilkan nilai ‘rantai suplai melebihi manfaat yang dicapai melalui biaya ekonomi. Intermediate pasar yang khusus memberikan kemampuan yang berbeda muncul sebagai kondisi industri yang menyangatkan partisi produksi. Sebagai hasil dari informasi yang lebih sederhana dan standarisasi koordinasi, jelas demarcations administrasi emerge sepanjang rantai nilai. Partisi yang terjadi antara pasar sebagai koordinasi produksi di seluruh rantai nilai yang sederhana sebagai informasi dan menjadi standar, sehingga lebih mudah untuk mentransfer kegiatan di perbatasan.

Dalam kegiatan outsourcing, perusahaan penyedia jasa outsourcing dan klien nya memiliki hubungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hubungan antara pembeli dan penjual. Klien mempercayai data-data dan informasi penting kepada mitra outsourcing. Outsourcing juga tidak lagi terbatas pada outsourcing layanan IT. Perusahaan di Amerika Serikat dan Inggris  banyak yang meng-outsource jasa keuangan, jasa rekayasa, jasa kreatif, layanan basis data dan lainnya. Perusahaan yang memilih untuk melakukan outsourcing memiliki pandangan bahwa dengan outsourcing memungkinkan organisasi untuk mengakses jasa intelektual yang tepat dan fokus pada kompetensi inti.

Apa itu insourcing ?

Kebalikan dari outsourcing, insourcing dapat didefinisikan ketika sebuah delegasi organisasi kerja kepada entitas lain, yang bersifat internal namun bukan bagian dari organisasi, itu disebut sebagai insourcing. Entitas internal atau in-house biasanya akan memiliki tim khusus yang akan mahir dalam memberikan layanan yang dibutuhkan. Organisasi kadang-kadang memilih untuk insourcing karena memungkinkan mereka untuk mempertahankan kontrol yang lebih baik dari pada melakukan outsource. Insourcing juga bisa berarti sebuah organisasi membangun sebuah pusat bisnis baru atau fasilitas yang akan mengkhususkan diri dalam layanan atau produk tertentu.

Insourcing mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan untuk dipekerjakan di luar perusahaan berdasarkan kompetensi dan minat karyawan itu sendiri dan difasilitasi oleh perusahaannya. Insourcing bisa dalam bentuk bekerja di luar perusahaan secara fulltime, fifty-fifty atau temporary. Kompensasi yang diterima juga mengikuti pola tersebut. Artinya mereka akan dibayar secara penuh oleh perusahaan yang menggunakannya, atau sharing dengan perusahaan asalnya atau perusahaan asal hanya menanggung selisih gaji (Zilmahram, 2009). Insourcing juga dapat didefinisikan sebagai transfer pekerjaan dari satu organisasi ke organisasi lain yang terdapat di dalam negara yang sama. Selain itu, Insourcing dapat pula diartikan dengan suatu organisasi yang membangun fasilitas atau sentra bisnis baru yang mengkhususkan diri pada layanan atau produk tertentu. Dalam kaitannya dengan IT, Insourcing atau Contracting merupakan delegasi dari suatu pekerjaan ke pihak yang ahli (spesialis IT) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan.

Organisasi yang terlibat dalam produksi biasanya memilih untuk insourcing untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan pajak. Kecenderungan insourcing telah meningkat sejak tahun 2006. Organisasi yang telah puas dengan outsourcing telah bergerak ke arah insourcing. Beberapa organisasi merasa bahwa mereka dapat memiliki dukungan pelanggan yang lebih baik dan kontrol yang lebih baik dari pada melakukan outsourcing.

Apa itu co-sourcing ?

Co sourcing merupakan pengembangan sistem informasi yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan atau departemen TI yang bekerjasama dengan pihak ketiga/vendor. Keputusan perusahaan untuk mengembangkan sistem informasi dengan Co sourcing berdasarkan beberapa hal, seperti misalnya target pengembangan sistem informasi yang ingin dicapai oleh perusahaan. Perusahaan memakai jasa pihak ketiga/vendor ingin melengkapi kekurangan-kekurangan sistem informasi yang dimiliki perusahaan, pihak ketiga yang memiliki skill lebih dari departemen IT internal perusahaan akan menutupi kekurangan-kekurangan tersebut atas informasi yang disampaikan oleh pihak internal perusahaan.

Disamping target yang ingin dicapai, perusahaan harus memperhitungkan budget yang telah dianggarkan. Keputusan memakai Co sourcing akan memakan biaya yang sangat besar karena melibatkan banyak pihak. Harus diperhitungkan kontribusi aktivitas TI setelah dikembangkan terhadap operasi dan posisi bisnis, apakah sesuai dengan jumlah yang telah dianggarkan. Apabila pengembangan sistem informasi yang lebih sempurna sangat mendesak untuk dilakukan, alasan seperti ini memungkinkan untuk mengambil metode Co sourcing dalam pengembangan SI dalam perusahaan.

Kemampuan sumber daya (resources) dari departemen sistem informasi juga merupakan faktor penting dalam mengambil metode pengembangan sistem informasi. Jika departemen sistem informasi tidak mempunyai sumber daya yang baik, misalnya tidak mempunyai analis dan pemrograman yang berkualitas dan tidak mempunyai teknologi yang memadai, hal ini sangat memerlukan pihak ketiga/vendor. Selain itu, perusahaan merasa perlu dan ingin melakukan transfer teknologi dan transfer pengetahuan dari vendor ke dalam perusahaan.

Penerapan sistem informasi dengan outsourcing, insourcing atau co-sourcing

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa dalam mengembangkan serta menerapkan suatu sistem informasi dan manajemen dalam perusahaan terdapat beberapa pilihan pendekatan yang dapat dilakukan. Pertama adalah pendekatan outsourcing dimana pengembangan dan penerapan sistim informasi dan manajemen diserahkan kepada perusahaan lain yang dianggap lebih kompeten di bidang tersebut dan bukan dilakukan oleh internal perusahaan. Faktor utama yang mendorong pendekatan ini adalah efisiensi sumber daya. Kedua adalah pendekatan insourcing yang pengembangan dan penerapan sistim informasi manajemen nya dilakukan oleh internal perusahaan yang dilakukan oleh pegawai perusahaan itu sendiri dan biasanya terdapat divisi atau departemen information and communicatuion technology yang bertugas untuk mengurus hal ini. Kemudian yang ketiga adalah pendekatan co-sourcing dimana perusahaan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk melaksanakan proses penyusunan, pengembangan dan pemeliharaan sistem informasi. Pelaksanaan alternatif ini pada dasarnya dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan suatu bisnis perusahaan dimana pada satu sisi perusahaan dihadapkan pada keterbatasan sumberdaya manusia dalam knowledge sistem informasi yang kurang, dan pada sisi yang lain sumberdaya manusia internal ini dapat menangani manajemen perusahaan secara baik (efektif dan efisien).

Setiap pendekatan tentunya memiliki kelebihan serta kekurangannya masing – masing, namun begitu pada dasarnya setiap pendekatan adalah baik hanya tinggal bagaimana menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi perusahaan. Oleh kerena itu perlu adanya pengkajian mengenai keunggulan dan kerugian dalam mengembangkan dan mengimplementasikan sistem informasi manajemen dengan menggunakan ketiga pendekatan tersebut. Dimulai dari keunggulan dan kelemahan ketiga sistem tersebut.

Keuntungan outsourcing :

  • Melakukan outsourcing untuk kegiatan yang bukan menjadi core-bisnis akan memberi perusahaan banyak waktu untuk berkonsentrasi pada bisnis inti.
  • Perusahaan outsourcing yang ahli dibidang IT dapat memberikan layanan yang berkualitas tinggi, terarah, dan praktis sehingga mempercepat proses pembangunan dan pengimplementasian sistem informasi baru.
  • Peningkatan efisiensi pekerjaan non-core secara menyeluruh yang akan berdampak pada peningkatan produktifitas core bisnis perusahaan dan keunggulan kompetitif.
  • Outsourcing dapat membantu merampingkan operasi bisnis perusahaan.
  • Offshore outsourcing, atau melakukan kegiatan outsourcing ke tempat yang geografik nya berbeda dengan tujuan penghematan waktu, tenaga kerja, dan biaya operasional serta meningkatkan siklus waktu kerja sehingga memungkinkan sebuah perusahaan untuk dapat melayani pelanggan selama 24 jam.
  • Perusahaan dapat menghemat investasi dalam perangkat lunak, teknologi terbaru dan infrastruktur.
  • Proses bisnis perusahaan dilaksanakan secara efisien dan dalam waktu perputaran yang cepat sehingga melancarkan arus kas.
  • Memberikan akses ke perusahaan terhadap sumber daya tidak tersedia secara internal, seperti teknologi yang modern dan terbaru sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan.
  • Fleksibilitas yang diperoleh melalui kegiatan outsourcing membantu perusahaan bereaksi dengan cepat terhadap perubahan kondisi pasar, fluktuasi siklus permintaan, dan meningkatnya persaingan.
  • Meningkatkan efektifitas perkerjaan internal. Dengan melakukan outsourcing, personil yang seharusnya bertanggung jawab di bagian ini dapat di alokasikan untuk tugas-tugas yang lebih strategis dan tepat sasaran.
  • Bantuan dengan globalisasi. Jika perusahaan yang ingin bergerak dan masuk ke pasar internasional, maka dengan bantuan agen outsourcing perusahaan akan mendapatkan bantuan dalam memperluas infrastruktur dan jangkauan operasional.

Kelemahan outsourcing :

  • Memungkinkan terjadinya konflik antara perusahaan dan pihak ketiga (perancang sistem informasi) karena perbedaan persepsi.
  • Perusahaan bisa saja kehilangan kendali terhadap sistem dan keamanannya dimana banyak data dan informasi penting didalamnya.
  • Tidak terjadi transfer knowledge di dalam perusahaan dengan optimal sehingga terjadinya kesenjangan secara internal perusahaan. Ini menyebabkan menurunnya keharmonisan dan efektifitas kerja pekerja.
  • Pelanggaran kontrak, yang banyak terjadi ketika vendor menjanjikan banyak hal pada awal perjanjian, namun tidak dapat direalisasikan ketika kontrak sudah berjalan.
  • Pengambilan keputusan hanya dikuasai oleh pihak eksekutif perusahaan dan karyawan hanya sebagai input dalam sistem.
  • Kontrak jangka panjang, dengan biaya yang mahal dan penalti pemutusan kontrak yang menyebabkan perusahaan tidak memiliki pilihan selain menjalankan kontrak sampai selesai.
  • Dengan outsourcing, mungkin akan berkurangnya fokus terhadap pelanggan secara manual  dimana dibeberapa negara pendekatan secara manual atau menggunakan tenaga manusia sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Kelebihan insourcing:

  • Kontrol langsung atas resources yang dimiliki oleh perusahaan menjadi tujuan utama perusahaan melakukan insourcing. Departemen yang bertanggung jawab secara langsung melakukan koordinasi dan mengelola setiap kegiatan dengan sumber daya yang ada dan dapat dioptimalkan.
  • Requirement dapat dipahami secara jelas.
  • Penerapan software/hardware relatif lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  • Mengedepankan peran user dalam menentukan tujuan dan sasaran pengembangan infrastruktur sistem,
  • Meningkatkan partisipasi user dan rasa memiliki pada infrastruktur yang dikembangkan.
  • Relatif mempercepat tahapan pengembangan karena knowledge transfer yang lebih mudah.
  • Respon yang cepat ketika terjadi masalah dalam sistem.
  • Keamanan data relatif terjamin.
  • Cocok untuk pengembangan sistem dan proyek yang bersifat kompleks
  • Pengambilan keputusan dapat dikendalikan oleh perusahaan, tanpa intervensi dari pihak luar.
  • Mengurangi biaya yang berkaitan dengan berulang mengelola Help Desk termasuk personalia dan pelatihan
  • Perusahaan dapat menikmati teknologi  yang dimiliki sendiri dan mengkonfigurasi seusai keinginan jika ada perubahan dalam berbisnis dengan client. Ini berdampak baik bagi perusahaan karena dapat meningkatkan daya saing.

Kelemahan insourcing :

  • Berkembangnya teknologi mengharuskan perusahaan mengeluarkan anggaran untuk menggunakan teknologi terbaru menyebabkan membengkaknya pengeluaran non-core.
  • Harus menginvestasikan waktu, teknologi, infrastruktur dan proses yang lebih besar dibandingkan tidak memiliki divisi IT sendiri.
  • Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi mungkin tidak mencukupi untuk membangun sistem yang sesuai.
  • Tidak ada batasan biaya dan waktu yang jelas, karena tidak ada target. Dan kalaupun ada target, tidak ada punishment yang jelas ketika target tidak tercapai.
  • Minimnya dokumentasi, karena dikerjakan oleh personel intern.
  • Kebocoran data mungkin dapat terjadi, dikarenakan tidak ada reward dan punishment yang jelas khususnya kepada karyawan yang menangani proyek SI.
  • Pengembangan sistem dengan teknik SDLC cenderung lambat dan mahal.
  • Resiko kerusakan software/hardware ditanggung oleh perusahaan, begitu juga dengan peralatan yang sudah lanjut usia.
  • Perubahan kultur perusahaan relatif lebih sulit dilakukan jika diatur oleh karyawannya sendiri.

Keuntungan co-sourcing :

  • Kontrol perusahaan kepada perusahaan yang diajak bekerja sama dapat lebih ketat dan terkontrol secara langsung.
  • Pembagian resiko bersama, apabila terjadi kegagalan dalam pengembangan sistem informasi yang ada.Sense of ownership and accountable tim lebih tinggi dalam membangun sistem
  • Teknologi yang akan dikembangkan dapat dinegosiasikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan perusahaan.
  • Perusahan dapat meyempurnakan kekurangan dalam pengembangan sistem infomasi perusahaan.
  • Adanya sharing knowledge antara karyawan perusahaan tersebut dengan pihak luar untuk menyempurnakan sistem informasi yang dikembangkan oleh perusahaan.
  • Permasalahan dalam pengembangan SI dapat didiskusikan bersama untuk mencari jalan keluar yang tepat.
  • Perencanaan pengembangan lebih kompetitif karena disesuaikan dengan core competency perusahaan.

Kelemahan co-sourcing :

  • Perlu pembelajaran yang lebih dari pihak perusahaan karena harus menyesuaikan dengan komponen teknologi yang dimiliki oleh vendor, yang umumnya lebih canggih.
  • Kurangnya keamanan sistem informasi karena adanya peluang penyalahgunaan sistem informasi oleh vendor, seperti pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan kepada pesaing.
  • Membutuhkan biaya yang relatif besar karena melibatkan dua pihak yang saling bertangung jawab dalam penerapan sistem infomasi suatu perusahaan.
  • Keuntungan perusahaan dari pengembangan sistem infomasi ini belum dapat dirasakan dalam jangka pendek.
  • Perbedaan kepentingan organisasi dapat menyebapkan konflik kepentingan antara perusahaan dan vendor dan berakibat pada terhambatnya pengembangan sistem informasi perusahaan.
  • Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam penyesuaian kebudayaan kerja dan transfer knowledge antara perusahaan dan vendor untuk pengembangan sistem informasi perusahaan.

Apa yang terbaik untuk perusahaan ?
Jika perusahaan kita memiliki sejumlah proses non-core yang menyita banyak waktu, tenaga dan sumber daya untuk dikembangkan dan diimplementasikan in-house, akan bijaksana untuk melakukan outsourcing fungsi-fungsi non-inti. Outsourcing dalam hal ini, akan membantu perusahaan menghemat waktu, usaha, tenaga kerja dan juga akan membantu dalam membuat dan mengembangkan sistem informasi yang baik dengan waktu yang relatif cepat. Dengan ini kepuasan pelanggan atau client dapat terpenuhi.

Namun jika perusahaan mementingkan keamanan dan perkembangan bisnis kedepannya maka akan lebih idela bagi perusahaan untuk mengembangkan sistem informasi sendiri atau insourcing. Dengan memiliki divisi IT sendiri maka kontrol teknologi dan sistem dapat dimiliki penuh oleh perusahaan.

Lain lagi dengn co-sourcing yang menekankan kerjasama antara pihak perusahaan dengan pihak lain dimana kerjasama ini bersifat saling melengkapi. Biasanya sistim ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang ingin pengembangan sistem informasinya dijalankan secara internal, namun kekurangan sumber daya yang cukup untuk melaksanakannya. Namun begitu perusahaan tidak ingin membeli dari pihak lain melainkan ingin mengembangkan secara bersama-sama. Dengan ini kineja tim dapat lebih terpercaya karena adanya partisipasi perwakilan perusahaan dalam pengembangan sistem tersebut.

———————————————————————————————————————————————

Untuk mengunduh PFD dari artikel ini —-> Insourcing, Outsourcing & Cosourcing

———————————————————————————————————————————————

GDSS (Group Decision Support Systems)

3 December 2010
Comments Off on GDSS (Group Decision Support Systems)

DSS, Decision Support System, intinya adalah sistem pengumpulan dan pengolahan data, dimana informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk melakukan keputusan dari permasalahan yang tak terstruktur. Dengan adanya DSS ini, pengguna bisa melihat garis besar kegiatan yang telah dan tengah terjadi, membantu memperkirakan arah kegiatan kedepannya, dan meningkatkan efisiensi pemikiran dalam pengambilan keputusan.

GDSS adalah Group DSS. Disini, pengguna DSS adalah satu Grup yang terdiri dari beberapa orang yang terkait. Jadi, pengambil keputusannya bukan hanya satu orang pengguna, namun satu tim/kelompok. Yang membedakan GDSS dengan DSS adalah adanya tempat komunikasi bersama, dimana arah keputusan masing-masing individu dapat kompak untuk mendukung keputusan yang lebih besar.

Keuntungan GDSS :

  • Mendukung pemprosesan pararel dari informasi dan ide partisipan.
  • Mengijinkan grup yang lebih besar berpartisipasi dengan informasi, pengetahuan yang lebih banyak.
  • Mengijinkan grup menggunakan teknik terstruktur atau tidak terstruktur dalam mengerjakan tugas.
  • Menawarkan akses mudah dan cepat ke informasi eksternal.
  • Membantu partisipan berhubungan dengan gambaran yang lebih jelas.
  • Menyediakan stuktur untuk merencanakan proses dan menjaga grup tetap di jalurnya.
  • Menginjinkan beberapa user berinteraksi secara bersamaan.
  • Mencatat semua informasi secara otomatis.

Keterbatasan bekerja dalam grup:

  • Tekanan sosial agar selalu menyesuaikan diri (pemikiran grup, dimana ide baru sulit ditoleransi)
  • Menghabiskan waktu, prosesnya lambat.
  • Keterbatasan koordinasi, perencanaan pertemuan yang jelek.
  • Pengaruh jelek dari grup dinamis (takut berbicara, suasana yang kaku)
  • Kecenderungan anggota untuk mengandalkan saja yang lain dalam mengerjakan tugas.
  • Waktu yang tak produktif (sosialisasi, persiapan, menunggu orang)

GDSS banyak diterapkan di organisasi-organisasi yang sudah mapan. Banyak cara yang digunakan untuk menerapkan GDSS untuk membantu mempertajam proses decison making dan meningkatkan produktifitas dari rapat, baik dengan mempercepat proses pengambilan keputusan ataupun dengan meningkatkan kualitas dari keputusan yang dihasilkan. Hal ini bisa terwujud dengan menyediakan dukungan terhadap pertukaran ide-ide, opini, dan pilihan-pilihan di dalam kelompok. Kapabilitas yang melekat pada GDSS sangat membantu organisasi-organisasi yang menggunakannya untuk memungkinkan terciptanya koordinasi proses kegiatan baik internal maupun eksternal dengan cara yang lebih akurat.

Lebih lanjut dengan GDSS perusahaan-perusahaan mapan yang memiliki cabang diberbagai belahan dunia atau multinational companies memiliki kemampuan untuk menggabungkan ide-ide dan masukan untuk rapat pengambilan keputusan dari cabang yang berada pada letak geografis yang berbeda sekalipun. Oleh karena itu GDSS biasa disebut sebagai paradigma penghubung antara synchronous vs asynchronous, atau local vs distant. Dengan sistem ini penggabungan memberikan bantuan yang sangat signifikan untuk menentukan strategi perusahaan dalam mengekspan dan merancang bisnis baru. Juga untuk meramalkan keputusan yang mengarah lebih dalam ke tingkat global.

Pengembangan aplikasi GSDD mulai diperkenalkan di dunia agroindustri untuk membantu negara-negara berkembang memprediksi dampak perubahan teknologi atau kebijakan pertanian dan pemanfaatan sumberdaya alam. Model aplikasi ini akan memungkinkan manajer, pembuat kebijakan atau pemimpin pemerintah untuk mengembangkan skenario dan menguji berbagai pilihan sebelum menerapkan prakteknya dilapangan. GDSS juga akan menyertakan data dasar kritis untuk analisis spasial eksplisit geografi, lingkungan dan model biofisik, yang juga akan menyediakan sarana untuk
menilai interaksi antara penggunaan lahan dan basis sumber daya alam. Hal ini juga akan menyediakan akses melalui jaringan global untuk model lain dan sumber informasi yang relevan. GDSS sedang dikembangkan dan disesuaikan sehingga akan berguna dari tingkat petani ke tingkat global.

SANREM atau Sustainable Agriculture and Natural Resource Management yang dikembangkan oleh USAID (U.S. Agency for International Development) adalah program yang dibuat untuk pengembangan teknologi dan penegelolaan sumber daya alam dalam dunia agroindustri di dunia. Pada tahun 1999 lembaga yang didirikan di Amerika ini mulai berfokus mengembangkan program SANREM di Afrika.

Pembangunan GDSS di Afrika berfungsi untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain maupun global secara paralel dalam kegiatan pertanian dan membuat informasi keputusan yang berkaitan dengan kasus dilapangan dalam pengelolaan sumber daya alam, teknologi yang dipakai, praktek dan kebijakan yang berkelanjutan. Lebih dari itu SANREM di Afrika juga untuk mengembangkan kemampuan untuk menilai dampak kebijakan dan keputusan manajemen terkait dalam bidang pangan, pertanian, dan pengelolaan SDA di tingkat pemerintahan mulai dari provinsi ke global. Model sektor pertanian pun juga dikembangkan yang kemudian menjadi penentu dan alat DSS dengan menggunakan unsur stokastik untuk memperkirakan resiko adopsi teknologi baru pada pertanian dan lingkungan juga opsi kebijakan pemerintah.

Rencana umum SANREM di Afrika adalah mendirikan pilot project di Kenya dan Mali untuk lokakarya perencanaan pertanian antar dua negara. Pada program ini studi dilakukan dan menghasilkan keputusan untuk menghubungkan citra satelit dengan informasi terkait dari sebuah device yang di letakan di lapangan secara luas agar menjangkau beberapa daerah bagian di Mali dan Kenya. Metoda ini menunjukan utilitas untuk menilai status SDA dari wilayah Afrika Barat ke Afrika Timur. Analisa menggunakan model ini menghasilkan proyeksi status ketahanan pangan di Mali sampai tahun 2015.

Kesuksesan SANREM di pilot project nya kemudian dijadikan tolak ukur keberhasilan implementasi GDSS di agroindustri khususnya di Afrika. Oleh karena itu program dilanjutkan ke Afrika Barat dalam mengembangkan ketahanan pangan di daerah itu dimana citra satelit digunakan untuk penilaian tutupan lahan atau penggunaan lahan. Data Geo-Refrenced untuk menginput model, data, dan menghasilkan analisis kerangka kerja di daerah pertanian.

Program pengembangan GDSS lainnya yang digunakan di dunia agroindustri adalah program riset penegembangan kedelai di Brazil oleh Embrapa, sebuah lembaga riset agrikultur di Brazil.  Riset teknologi dalam mengembangkan benih kedelai yang baik dikembangkan di pusat-pusat lembaga di setiap daerah bagian di Brazil. Dengan menggunakan GDSS mereka berkolaborasi dalam mentransfer informasi dan ilmu. Keadaan dilapangan juga harus dilaporkan ke puast dengan menggunakan satelit dan sensor panas sehingga kegiatan studi bisa dikelola agar efektif dan efisien. Embrapa pusat juga menggunakan GDSS dalam mengelola kegiatan risetnya agar tidak menghabiskan anggaran dari kegiatan-kegiatan yang tidak mendapatkan manafaat dan berulang di tiap pusat litbang daerah. EMS atau Electronic Meeting System menggunakan perangkat Windows seperti Mircrosoft Live Meeting digunakan banyak di litbang-litbang Embrapa untuk bertukar informasi dan membuat program kerja bersama seperti penggunaan Microsoft Project yang terintegrasi.

Coffee & Me

2 December 2010
Comments Off on Coffee & Me

I always love coffee. Bitter, sweet and addictive. Those 3 things probably are the perfect word to describe a cup of Coffee… and ME 🙂

Check out my older blog http://gerobakkopi.wordpress.com/ For those of you who also love coffee please do check the blog out.

And also I want to introduce my second small yet lovely coffee shop. It’s called UnI Coffee, located in Takoru – kampus FISIP UI – Depok. Go there and taste our delicious cup of coffee made by our coffee enthusiast barista. Our specialties is green tea latte, ice blended latte with various flavors such as vanilla, hazelnut, caramel, or just plain hot and tasty cappuccino.

As it located in the heart of the biggest public university in Jakarta, students are our main target market. That is why we sells our products with a bit of fair price range, between Rp. 8000 – Rp. 15000.

PaintBall R44

26 May 2010

Ada rencana nih R44 mengadakan main paintball lagi sehabis matrekulasi. Tolong di comment !

Liburannn Yuukkkk

26 May 2010

Hai semua teman2, khususnya anak2 R44 yang suka ngerjain org dan bikin dosen marah hahahaha. Advice needed, gw mau bikin plan untuk liburan nanti bln Juni (abis matrikulasi). Ini option2nya.. Holiday theme is BEACHES..!!

1. BALI

2. BELITUNG

3. LOMBOK

Atau ancol di jakarta 🙁

4. JAKARTA

Jadi gimana nihhh???

Skip to toolbar